Kamis, 08 Maret 2012

ADAT ISTIADAT JAWA

TATA CARA PERNIKAHAN ADAT JAWA

Pernikahan adat Jawa melambangkan pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dan pengantin pria yang gagah dalam suatu suasana kerajaan jawa. Sehingga pengantin pria dan pengantin wanita seperti menjadi raja dan ratu sehari. Biasanya acara pernikahan ini diadakan di rumah orang tua memnpelai wanita, orang tua dari pengantin wanita lah yang menyelenggarakan upacara pernikahan ini.

Secara garis besar rangkaian acara pernikahan adat jawa adalah sebagai berikut:

Lamaran
Pihak orangtua laki-laki mengirim utusan ke orangtua pengantin perempuan untuk melamar. Jika orangtua dari kedua pengantin telah menyetujui lamaran perkawinan. Biasanya orangtua perempuan yang akan mengurus dan mempersiapkan pesta perkawinan. Baca selengkapnya.....


MALAM MIDODARENI

Salah satu urutan acara adat Pernikahan Jawa adalah Midodareni, ada beberapa urutan acara pada Malam Midodareni dan akan kami coba jelaskan satu persatu.

Dimulai dengan makna Malam midodareni itu sendiri, yaitu malam sehari sebelum pernikahan yang berarti malam terakhir bagi calon Pengantin Putri sebagai remaja putri dan juga bermakna memohon berkah kepada Tuhan YME agar proses akad pada keesokan hari berjalan lancar dan di percaya pada dahulu kala pada malam midodareni para bidadari turun dari khayangan dan turut memberi restu untuk pernikahan esok hari.

Pada malam midodareni ini Calon Pengantin Putri hanya dirias tipis-tipis dan tanpa mengenakan perhiasan, sebelumnya telah dirias dan dikerik oleh perias setelah melakukan siraman. Baca selengkapnya.....


TATA CARA MITONI (7 BULANAN)

Mitoni atau selamatan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap usia 7 bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari 7 bulan, sekalipun kurang sehari. Belum ada neptu atau weton (hari masehi + hari Jawa) yang dijadikan patokan pelaksnaan, yang penting ambil hari selasa atau sabtu. Tujuan mitoni atau tingkeban agar supaya ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu). Baca selengkapnya.....






TEDAK SINTEN (KETIKA ANAK PERTAMA KALI MENGINJAK TANAH

Inilah salah satu tradisi masyarakat Jawa yang mulai digerus zaman. Tedak Siten sendiri berasal dari kata Tedak yang berarti menapakkan kaki atau langkah, dan Siten yang berasal dari kata siti berarti tanah. Maka, Tedak Siten adalah turun (ke) tanah atau mudhun lemah. Lengkapnya, tradisi ini diperuntukkan bagi bayi berusia 7 lapan atau 7 x 35 hari (245 hari). Jumlah selapan adalah 35 hari menurut perhitungan Jawa berdasarkan hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Pada usia 245 hari, si anak mulai menapakkan kakinya pertama kali di tanah, untuk belajar duduk dan belajar berjalan. Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak (bayi) untuk menghadapi kehidupannya. Baca selengkapanya.....


TADISI RUWATAN

Tradisi Ruwatan adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya.

Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita "wayang" dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa (Jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala. Baca selengkapnya....



TIRAKATAN (General Pray Of Java People)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah tirakat yang bermaksud mendekatkan diri kepada tuhan, berupa perilaku, hati dan pikiran.
Tirakat adalah bentuk upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada tuhan.

Berpuasa termasuk salah satu bentuk tirakat, dengan berpuasa orang menjadi tekun dan kelak mendapat pahala, orang jawa kejawen menganggap bertapa adalah suatu hal penting. Menurut kesusasteraan jawa orang yang bertahun-tahun berpuasa dianggap sebagai orang keramat. Karena dengan bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan tinggi. Serta mampu menahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat tercapai, selain puasa kegiatan tirakat lainnya adalah meditasi dan semedhi. Baca selengkapnya.....

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More